Berjuta-juta tahun hidup bersama manusia, ganja pada dekade 1960-an mulai dicap barang ilegal. Di Indonesia, pengguna ganja diancam hukuman minimal empat tahun bui. Seiring perkembangan riset medis yang membuktikan manfaat ganja, muncul gerakan yang mengupayakan tanaman perdu itu keluar dari daftar barang ‘haram’. Dengan statusnya yang hingga kini masih ilegal, diam-diam sejumlah pasien di Indonesia memanfaatkan ganja sebagai alternatif pengobatan.

Persinggahan di Amsterdam, Belanda sekitar 1999, mengubah hidup Prawara. Ketika itu kapal pesiar tempat dia bekerja berlabuh di negeri kincir angin.

Prawara, bukan nama sebenarnya, menyempatkan diri berjalan-jalan menelusuri kota Amsterdam. Di sana dia menemukan hal yang unik: deretan kedai kopi, kafe dan klinik medis yang menjajakan ganja secara legal.

Pemerintah Belanda terbilang progresif. Sejak 1970-an mereka mengizinkan tempat tertentu memperjualbelikan ganja dengan jumlah terkontrol.

Prawara memilih mampir ke sebuah klinik medis dan berkonsultasi kepada seorang dokter tentang nyeri di daerah punggung bawah (low back pain). Penyakit itu dideritanya sejak 1990.

Dokter di klinik medis yang ia sambangi menawarkan terapi kanabis atau ganja sebagai obat.

“Dia mengatakan ganja dapat menghilangkan nyeri tanpa efek samping dan tak ada ketergantungan,” kata Prawara kepada CNNIndonesia.com, beberapa waktu lalu.

Prawara mengikuti anjuran sang dokter. Ia membakar dan mengisap lintingan ganja.

“Entah itu sugesti atau apa. Tapi saya bisa merasakan ketika menggunakan kanabis, sakit saya hilang,” katanya.

Read More : https://www.cnnindonesia.com/laporanmendalam/nasio...

Bagikan Kegiatan Dosen ini

Kegiatan Dosen Lainnya